Sejarah Sejarah Hotel Indonesia / Dunia

Ketika kita berbicata tentang Sejarah, memang tak ada habis2nya. Karena yang namanya sejarah tak bisa lepas dari keghidupan manusia di muka bumi ini, informasi berikut adalah tentang Sejarah Hotel Indonesia / Dunia.Seperti itu juga Sejarah Hotel Indonesia dan juga negara lainnya di dunia.Pembahasan dan ulasan yang kami berikan di bawah ini mungkin bisa sedikit memberikan informasi bagi anda yang ingin tahu tentang Hotel di Indonesia dan hegara lain bagaimana awalnya didirikan.

Inilah Sejarah Hotel Indonesia yang memang tak terpisahkan dan melekat erat dengan Sejarah Hotel Dunia.Pada dasarnya keberadaan fungsi hotel adalah sarana penunjang kegiatan berpergian yang berjarak jauh dari tempat tinggal sehingga dibutuhkan sarana akomodasi untuk tempat beristirahat berupa kamar tidur.
       
Menurut Drs. Oka A.A. Yoeti, sejarah perhotelan sebenarnya sudah dimulai semenjak Mariam dan Yusuf membutuhkan tempat menginap sewaktu Mariam akan melahirkan Nabi Isa, hal ini sejalan dengan peradaban manusia yang selalu memerlukan tempat untuk berlindung sementara terhadap cuaca panas dan dingin dalam melakukan kegiatan perjalanan.
       
Pada masa kerajaan Romawi telah dibangun rumah penginanpan yang disebut “MANSIONES” yang berlokasi sepanjang jalan raya utama dengan jarak masing-masing sekitar 40 KM. Kemudian selama abad pertengahan, peraturan keagamaan di Eropa memerintahkan agar dibangun tempat-tempat menginap di sepanjang jalan yang dilalui orang ( road side inn ).
       
Pada waktu Perang Salib berkecamuk, banyak pengusaha rumah penginapan yang membangun tempat-tempat bagi para prajurit perang, juga bagi para peziarah yang sedang melancong ke tanah suci seperti tertulis di kitab Injil.
       
Selain itu, gereja-gereja yang ada juga memberikan pelayanan berupa penyediaan fasilitas beristirahat kepada para pelancong yang memerlukannya. Kebanyakan gereja pada waktu itu mempunyai dua buah dapur, yang satu untuk para Rahib yang tinggal disana dan yang lainnya untuk para pelancong yang bermalam. Tidak diambil pungutan biaya, tetapi diharapkan adanya sumbangan sukarela bagi mereka yang mampu.
       
Menurut  Jusupadi  Salmun SH, dalam  film -   film  Western  ( cowboy )  sekitar   tahun   1800 s.d 1900, sudah terdapat hotel yang bersebelahan dengan saloon dan bar restaurant, yang berarti sejak kehidupan tahun tersebut penyediaan hotel, motel, penginapan atau losmen telah dikenal orang sebagai sarana atau penunjang bagi para pelancong.


   
Hotel  dengan stadard yang lebih baik pertama-tama dibuat di Inggris, kemudian Perancis, Swiss dan beberapa negar terkenal lainnya. Sebuah penginapan di New York City menurut Willam S. Gray dan Salvatore C. Linguori telah memegang peranan penting dalam kancah Revolusi Hotel di Amerika.

Sebelumnya, sebuah Flat ( Mansion ) yang bernama De Lancey pada tahun 1762 telah berubah menjadi sebuah hotel dengan nama baru yaitu Queens Head Tavern. Dalam sejarahnya gedung ini tetap dipelihara dengan baik sebagai lambang yang mencerminkan masa lalu Amerika Serikat dan kini telah menjadi sebuah restaurant yang besar dengan nama Frannces Tavern. Kemudian menyusul hotel di Covent Garden tahun 1774 yang berdampingan dengan bioskop dekat Westminsfer di kota London.

   
Beberapa kalangan Amerika menganggap hotel yang benar-benar hotel dengan 170 kamar didirikan di New York tahun 1794 dengan nama City Hotel.

   
Kemudian menyusul Boston’s Tremont House dengan 270 kamar di tahun 1829 yang tidak hanya memberikan pelayanan untuk tinggal sementara, tetapi juga menyediakan ruangan untuk converence bagi masyarakat setempat.
   
Sejak itu maka menyusul hotel-hotel seperti ini :

    Thn 1830-1850 - berdirinya Hotel Aster, The Palmer House dan The Sherman House di Chicago, Hotel planters di St. Louis.
    Thn 1865 - berdiri The St. Pancras Station and Hotel di London
    Thn 1875 – berdiri The Palace di San Fransisco dengan biaya $ 5 Juta, merupakan hotel terbesar dan termegah pada saat itu dengan jumlah 800 kamar.
    Thn 1880 – berdiri Ellsworth Milton Statler di New York, yaitu hotel pertama yang dibangun untuk kepentingan “Business Travellers” dan merupakan “Chain Hotel” pertama di dunia.
    Thn 1894 – berdiri The Netherlands Hotel di New York sebagai hotel pertama yang menggunakan sambungan telepohone yang connecting ke dalam setiap kamarnya.
    Thn 1896 – berdiri hotel The Waldorf Astoria di New York.

   
Satu hal yang dapat dicatat mengenai lokasi hotel sebelum dan sesudah tahun 1900 di Amerika dan Eropa, umumnya berlokasi tidak jauh dari station kereta api. Akan tetapi, ketika dunia telah mengenal mobil dan pesawat terbang, lokasi hotel tidak lagi tergantung pada station kereta api, karena pemenuhan aspek aksibilitas melalui alat transportasi sudah bersifat diversifikatif sekali.

   
Sejarah perkembangan perhotelan di Indonesia belum banyak terungkap, juga belum banyak buku yang mengungkapkan masalah ini. Indonesia telah dikenal di dunia pariwisata sejak sebelum Perang Dunia ke I, tetapi jumlah wisatawan yang berkunjung masih terbilang ribuan.  Seiring dengan perkembangan kedatangan wisatawan asing ke indonesia yang lebih memerlukan sarana akomodasi pariwisata bersifat memadai, maka semasa penjajahan kolonial Belanda, mulai berkembanglah hotel-hotel di Indonesia. Dari buku PARIWISATA INDONESIA DARI MASA KE MASA tercatat hotel-hotel yang sudah hadir pada saat itu diantaranya :

    Jakarta, dibangun Hotel Des Indes, Hotel Der Nederlanden, Hotel Royal dan Hotel Rijswijk.
    Surabaya, berdiri Hotel Sarkies dan Hotel Oranje.
    Semarang, berdiri Hotel Du Pavillion.
    Malang, Palace Hotel.
    Solo, Slier Hotel.
    Yogyakarta, Grand Hotel ( sekarang Hotel Garuda )
    Bandung, Hotel Savoy Homann, Hotel Preanger dan Pension Van Hangel ( kini Hotel Panghegar ).
    Bogor, Hotel Salak.
    Medan, Hotel de Boer dan Hotel Astoria.
    Makasar, Grand Hotel dan Staat Hotel.

   
Kebanyakan hotel-hotel itu sampai sekarang masih ada, ada yang menjadi Herritage, ada yang sudah direnovasi menjadi lebih baik dan ada juga yang telah diredevelopment total sehingga tidak ada lagi bentuk aslinya, seperti Hotel Des Indes yang dalam perkembangannya pernah menjadi Hotel Duta Indonesia, kini pertokoan Duta Merlin.
   
Setelah periode pemerintahan Orde Baru, pembangunan dan kehadiran hotel di Indonesia jauh dan sangat berkembang pesat. Terutama setelah masuknya beberapa chains ‘management’ hotel international yang banyak merambah ke kota-kota besar di Indonesia. Sejalan dengan berkembangnya hotel di indonesia ,wajah arsitektur hotel di Indonesia pun sangat berkembang dan inovative. Akan tetapi hal ini menjadi satu tolak ukur sejarah baru untuk Hotel di Indonesia.

Sejarah Hotel Dunia/ Internasional

 otel berasal dari kata “hostel” yang mempunyai arti “tempat penampungan bagi pendatang yang juga menyediakan makanan dan minuman”, konon diambil dari bahasa Perancis kuno. Bangunan publik ini sudah disebut-sebut sejak akhir abad ke-17.

Muncul hotel legendaris Tremont House (Boston, 1829) salah satu tempat paling top di Amerika Serikat (AS). Tremont bersaing dengan Astor House, yang dibangun di New York, 1836. Saat itu, hotel modern identik dengan perkembangan lalu lintas dan tempat beristirahat.

Kepopuleran hotel transit pun tersaingi oleh kehadiran "motel", gabungan kata "motor hotel" atau tempat istirahat para pengendara kendaraan bermotor.

Sejarah Hotel Di Indonesia

Asal mula dunia pariwisata di Indonesia mulai dikenal saat Belanda menjajah Indonesia. Saat itu dibangun beberapa tempat penginapan , Slier Hotel (Solo) , Palace Hotel (Malang) , dan Grand Hotel (Yogyakarta). Industri pariwisata Indonesia mulai menanjak saat kepariwisataan di Bali. Ditahun 1963 itulah mulai dibangun Hotel Bali Beach ,yang diresmilkan di Pelabuhan Udara Ngurah Rai.
Sejarah ini terkait dengan dimulainya aktifitas manusia untuk berpergian ke tempat yang jauh dari tempat tinggalnya. Para pelancong membutuhkan istirahat ,maka muncullah tempat penginapan yang sering disebut Hotel.

Pengertian Hotel

Hotel adalah sebuah bangunan fisik yang memberikan fasilitas penginapan umum dengan fasilitas pelayanan makan dan minum ,kamar ,barang bawaan , pencucian pakaian ,dan dapat menggunakan fasilitas atau perabotan serta menikmati hiasan yang ada didalamnya yang dikelola secara komersial.

Sejarah Perkembangan Hotel Di Indonesia


Seiring dengan tumbuhnya dunia pariwisata Indonesia, sejarah Hotel di Indonesia pun turut andil menyukseskannya. Keberadaan hotel-hotel di Indonesia, tentu saja sangat dibutuhkan dalam industri pariwisata dan perhotelan, mengingat tanpa akomodasi yang memadai, mustahil turis mau berkunjung. Berbicara soal kondisi hotel di tanah air, bagaimana sih sebenarnya sejarah perkembangan Hotel Indonesiaitu sendiri ?

Hingga sekarang, belum terungkap dengan jelas, bagaimana sebenarnya sejarah perkembangan hotel di Indonesia. Tak ada literatur yang membahas secara khusus dan detil mengenai masalah ini. Asal muasal dunia pariwisata di Indonesia mulai dikenal saat Belanda menjajah Indonesia. Ketika itu, dibangunlah beberapa hotel di berbagai daerah. Misalnya, Hotel Der Nederlanden, Hotel Royal, Hotel Des Indes dan Hotel Rijswijk (Jakarta), Slier Hotel (Solo), Palace Hotel (Malang), atau Grand Hotel (Jogjakarta).

Industri pariwisata Indonesia makin menanjak saat kepariwisataan di Bali mulai mendapatkan perhatian serius. Pada tahun 1963, dibangunlah Hotel Bali Beach, kemudian menyusul diresmikannya Pelabuhan Udara Ngurah Rai sebagai pelabuhan internasional, tiga tahun berselang. Pada perkembangannya baru-baru ini, Bali makin dijejali turis-turis asing yang gampang dijumpai di berbagai tempat, hingga di pelosok desa terpencil sekali pun.

Tak berbeda jauh dengan Bali, kehidupan pariwisata di daerah lain pun turut bangkit. Seperti di Malang, Jawa Timur, yang mempunyai beberapa objek wisata potensial. Yang paling mencuat dan didatangi pengunjung adalah kawasan Batu, dengan kontur daerah yang berbukit, perkebunan apel dan Selekta, sebuah objek wisata yang berhasil mengembangkan tulip, sehingga suasananya mirip dengan Belanda.
Kota berhawa sejuk yang berjarak 90 km di sebelah selatan Kota Surabaya ini, mulai tumbuh dan membenahi berbagai fasilitas serta sarana dan prasarana pendukung. Seolah ingin melestarikan peninggalan bersejarah, pemerintah Kota Malang tetap mempertahankan berbagai hotel yang dibangun pada jaman kolonial Belanda.
Sebagai contoh, Hotel Pelangi, yang tergolong salah satu hotel tertua di kota berjuluk Kota Pelajar itu. Hingga sekarang, hotel yang berlokasi di bilangan Jalan Merdeka ini, tetap menjadi hotel yang layak huni bagi pelancong dan malah memberikan sebuah keindahan tentang kenangan masa lampau lewat foto-foto “jadul” yang dipajang di dinding hotel.

Sementara, keadaan perhotelan di Bandung, juga tidak kalah semarak. Perkembangan beragam usaha, mulai dari distro, kuliner, kafe, home industry, dan factory outlet (FO), membuat Kota Kembang ini diserbu pengunjung. Khususnya di akhir pekan/libur, pengunjung yang datang ke Bandung begitu membludak. Sebagai imbasnya, bisnis hotel di Bandung ikut terdongkrak.  Berbagai kelas hotel, dari kelas melati hingga berbintang, dari harga yang murah hingga harga yang mahal, dapat ditemui dengan mudah di dekat pusat keramaian atau di seputar obyek wisata.
Salah satu hotel di Bandung yang cukup populer adalah Hotel Cihampelas 2. Penginapan ini berada di kawasan pusat perbelanjaan, tepatnya di Jalan Cihampelas. Sepanjang sisi hotel, dijejali dengan factory outlet (FO) dan berbagai tempat bersantai. Antara lain, Ciwalk atau pusat jajanan khas Bandung yang super enak. Apabila menginginkan tempat menginap yang murah tapi berpelayanan bagus, terdapat pilihan menginap di Hotel Achino. Hotel dengan room rates mulai Rp110.000 ini, berada di dekat pintu tol Muhammad Toha, Kampus Langlang Buana, berbagai warung makanan khas daerah dan pasar tradisional Ancol. Dijamin usai menikmati kesejukan hawa Bandung dan puas tur ke berbagai factory outlet (FO), Anda dapat beristirahat dengan nyaman di hotel.

Untuk berwisata di Indonesia itu tidak harus bersusah payah karena tak dapat tempat menginap? Yang jelas, Hotel di Indonesia itu beragam dan sangat banyak di setiap daerah.

Sejarah Perkembangan Hotel di Masa Penjajahan Belanda

Pada masa penjajahan Belanda kegiatan kepariwisataan di Indonesia telah dimulai pada tahun 1910 – 1912 dengan didirikan badan kepariwisataan dengan nama Office Tourist Bureau. Badan kepariwisataan tersebut lebih dikenal dengan nama Vereneeging Indische Verker (VTV). Badan ini merupakan badan pemerintah yang sekaligus bertindak sebagai tour operator atau travel agent.
                  
Untuk melayani akan kebutuhan  akan perjalanan, pada tahun 1926 didirikan sebuah travel agent dan pada tahun 1928 travel agent tersebut dilebur menjadi NITOUR (Nederlandsche Indische Touristen Buerau) yang berkedudukan di Batavia (Jakarta).
                  
Pertumbuhan pariwisata ditandai pula dengan tumbuhya usaha perhotelan yang dimulai pada abad XXI, khususnya di kota-kota yang terletak dekat pelabuhan seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan Makassar. Di Jakarta didirikan hotel Des Indes , hotel Der Nederlanden, hotel Royal dan hotel Risjwijk. Di Surabaya berdiri hotel Sarkies, Oranye dan di Semarang didirikan hotel Du Pavilion. Sedang di Medan didirikan hotel De Boer, Astoria dan di Makassar didirikan hotel Grand dan Staat Hotel.
                  
Pada awal abad XXI usaha perhotelan makin berkembang tidak saja di kota-kota pelabuhan, tetapi tersebar ke kota-kota lain seperti hotel Palace di Malang, Selier hotel di Solo, hotel Van Hangel, hotel Preanger dan hotel Savoy Homan di Bandung, Grand Hotel di Yogyakarta. Setelah perkembangan sarana transportasi dan jalan-jalan raya makin pesat maka bermunculan hotel-hotel di kota lain yang menambah ramainya usaha perhotelan di Indonesia.
                  
Dengan jumlah yang masih sangat sedikit, pada masa penjajahan Belanda telah dioperasikan sarana transportasi, antara lain:
Perusahaan penerbangan yang menghubungkan antara Belanda dan Indonesia yaitu KLM
Angkutan kereta api baru dapat dioperasikan di Pulau Jawa pada tanggal 1 Oktober 1927
 Kapal Laut mulai dioperasikan pada tahun 1927
Taksi digunakan sebagai sarana transportasi dimulai pada tahun 1928

                  
Kegiatan-kegiatan lain dibidang kepariwisataan pada masa penjajahan Belanda, yaitu :
- Tahun 1927 telah dimulai dikembangkannya tour, khususnya di Pulau Jawa dan Sumatera yang di organisir oleh Lissone Lindeman (LISLIND)
- Pada tahun yang sama (1927) telah mulai berdatangan orang-orang penting untuk mempelajari kesenian dan kebudayaan khususnya kesenian dan kebudayaan Jawa dan Bali
- Pada tahun 1913 Vereneeging Indische Verker (VTV) menerbitkan “Guide Book” untuk Bali, Lombok, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Banten dan Tana Toraja
- Pada tahun 1923 mulai diterbitkan surat kabar mingguan dengan nama “ Java Tourist Guide”
Badan-badan atau organisasi kepariwisataan yang telah ada pada saat itu adalah :
1. Tourist Association of Garoet, Java (1923)
2. Tourist Association of Magelang (1924)
3. Bandung Vooruit (1926)





Sejarah Perkembangan Hotel Di Masa Pendudukan Jepang

Walaupun masa pendudukan Jepang relative sebentar, tetapu keberadaanya tidak hanya menyengsarakan bangasa Indonesia tetapi juga merusak kehidupan bangsa Indonesia. Sector pariwisata yang pada masa sebelumnya telah mulai berkembang, dengan hadirnya kekejaman tentara Jepang semua menjadi hancur. Orang-orang yang telah mengenal dan menyenangi pariwisata menjadi gairah. Ini dikarenakan rasa takut dan khawatir terhadap kekejaman tentara Jepang yang berkuasa.
                   
Obyek-obyek dan sarana wisata yang telah dibangun semua rusak menjadi terbengkalai. Bahkan hotel-hotel yang telah berdiri juga menjadi kekejaman Jepang. Hotel-hotel diambil alih, dikuasai serta digunakan untuk kepentingan lain seperti untuk asrama perwira Jepang (Heitan Ryokan), rumah sakit dan sebagainya. Sehingga pada masa pendudukan Jepang kepariwisataan di Indonesia mengalami kehancuran.

Sejarah Perkembangan Hotel Setelah Indonesia MerdekaPada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dengan segala keterbatasannya, sejak saat itu pula Indonesia berupaya menghidup kembangkan pariwisata. Upaya ini diawali dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Wakil Presiden Republik Indonesia Moh. Hatta di Yogyakarta. Keputusan tersebut tentang pendirian sebuah badan bernama HONET (Hotel National and Tourism) dengan tugas utama menghidupkan kembali perusahaan-perusahaan hotel milik Belanda. Yang dipercaya sebagai direktur HONET pada saat itu adalah R. Tjipto Roeslan
                   
Pada tahun 1952 dibentuk panitia inter-departement urusan tourism dengan tugas mengusahakan terbukanyaIndonesia sebagai daerah tujuan wisata kepada Negara lain. Pada tahun 1953 tokoh perhotelan Indonesia mendirikan sebuah organisasi hotel dan pariwisata dengan nama Serikat Gabungan Hotel dan Tourism Indonesia (SERGHATI). Perkembangan selanjutnya terjadi pada tahun 1955, yaitu dengan didirikan sebuah perseroan terbatas bernama PT NATOUR (National Hotel and Tourism Corp Ltd). Perusahaan kini bergerak dalam usaha perhotelan dan usaha perjalanan, dan nama NATOUR tetap dipergunakan hingga sekarang. Pada tahun yang sama lahir Yayasan Tourisme Indonesia (YTI) dengan tujuan untuk menghidup kembangkan industry pariwisata sehingga lebih efektif. Yayasan ini menggagas untuk menjadikan pariwisata sebagai industry yang dapat berdiri sendiri dan diharapkan dapat turut menopang perekonomian nasional. Ketua yayasan pada saat itu dipercayakan kepada Prof. R. Hendarmin.
                   
Awal tahun 1957 tepatnya pada tanggal 12 -14  Januari 1957 Yayasan Tourisme Indonesia menyelenggarakan kongres kepariwisataan dengan nama MUNAS TOURISME I. Sebagai tindak lanjut kongres ini maka lahirlah badan Dewan Tourisme Indonesia (DTI) yang bertanggung jawab terhadapa perkembangan pariwisata di Indonesia. Surat keputusan Menteri Perhubungan No.52/2/21 tanggal 8 April 1957 mengangkat Sri Budojo sebagai ketua DTI.

Dari ulasan dan penjelasan serta paparan tentang Pertumbuhan Hotel Hotel di Indonesia dan dunia, kita bisa tahu bagaimana asalanya orang membuat atau membangun sebuah tempat bermalam yang sekarang lebih dikenal dengan istilah hotel.
Sejarah Sejarah Hotel Indonesia / Dunia Sejarah Sejarah Hotel Indonesia / Dunia Reviewed by Pakar Pupuk Tanaman on July 27, 2017 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.